Saatnya Maksimalkan Ekspor Otomotif ke Pasar Asean

Kawasan Asean kian potensial sebagai tujuan ekspor industri otomotif nasional seiring dengan pertumbuhan pasar di negara tetangga.
Thomas Mola
Thomas Mola - Bisnis.com 11 September 2019  |  11:38 WIB
Saatnya Maksimalkan Ekspor Otomotif ke Pasar Asean
Ilustrasi - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA – Kawasan Asean kian potensial sebagai tujuan ekspor industri otomotif nasional seiring dengan pertumbuhan pasar di negara tetangga.

Data Asean Automotive Federation (AAF) menunjukkan, total penjualan kendaraan di kawasan Asean sebanyak 1,69 juta unit pada semester I/2019, hampir sama dengan periode yang sama 2018. Dari jumlah itu, kontibutor terbesar berasa dari Thailand dengan 523.770 unit disusul Indonesia sebanyak 481.577 unit.

Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) sekaligus Presiden AAF Yohannes Nangoi memprediksi kinerja ekspor utuh (completely built-up/CBU) nasional bisa mencapai 300.000 unit pada akhir 2019. Hal itu berkaca dari tren ekspor CBU nasional yang terus menunjukkan tren peningkatan.

Pada sisi ekspor, salah satu pesaing utama Indonesia di kawasan Asean untuk ekspor ialah Thailand yang selangkah lebih maju untuk memproduksi kendaraan dengan standar global. Thailand dari sisi regulasi bergerak cepat termasuk soal kendaraan ramah lingkungan.

Xpander

Pada pameran otomtif GIIAS 2019 lalu, Gaikindo juga mendorong agen pemegang merek (APM) untuk melabeli kendaraan sebagai produk ekspor. Hal itu bertujuan menunjukkan industri otomotif nasional telah mandiri dengan tingkat kandungan lokal yang kompetitif.

Gaikindo mencatat pada Januari-Juli ekspor CBU asal Indonesia telah menyentuh 169.390 unit, naik 23,1% dibandingkan dengan periode yang sama 2018. Peningkatan ekspor tahun ini terjadi karena masuknya pemain baru seperti Mitsubishi Motors yang konsisten mengapalkan Xpander termasuk ke kawasan Asean.

Hingga sejauh ini, merek yang melakukan ekspor dari Indonesia ke Kawasan Asean ialah Toyota, Mitsubishi Motors, Honda, Suzuki, Hyundai dan Hino. Jumlah produsen otomotif yang melakukan ekspor itu akan bertambah seiring dengan masuknya beberapa merek yang telah menyatakan bakal melakukan ekspor.

Wuling misalnya menyatakan dalam waktu dekat akan mengapalkan Almaz ke Thailand, sedangkan Isuzu juga akan mengirimkan pikap medium Traga ke Asean. Penambahan dua merek itu sejalan dengan upaya pemerintah untuk menjadikan otomotif sebagai salah satu sektor andalan ekspor.

Almaz

Toyota masih menjadi merek dengan ekspor terbesar dari Indonesia melalui kendaraan yang dikapalkan Daihatsu maupun Toyota. Pada Januari-Juli 2019, ekspor Toyota dan Daihatsu hanya tumbuh 1,07% karena melambatnya ekspor merek Toyota.

Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Warih Andang Tjahjono mengatakan, perlambatan ekpor erat kaitannya dengan kondisi negara tujuan ekspor. Beberapa negara di Asean seperti Filipina dan Vietnam juga mengalami fluktuasi ekonomi.

"Tergantung permintaan negara ekspor di negara Asia juga ada fluktuasi Filipina, Vietnam. Filipina karena kompetisi juga," ujarnya kepada Bisnis belum lama ini.

Warih menjelaskan, Toyota memiliki sejumlah produk yang diekspor ke berbagai negara. Beberapa produk mencatatkan kesuksesan, sedangkan beberapa produk lainnya masih harus berjuang untuk bisa diterima di negara tujuan.

Menurutnya, hal itu merupakan risiko bisnis karena tidak semua prediksi berjalan sesuai dengan perencanaan awal. Saat ini, produk andalan ekspor Toyota ialah model SUV seperti Fortuner dan Rush serta model MPV seperti Innova dan Avanza.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Ekspor Mobil

Editor : Galih Kurniawan
KOMENTAR


0 Komentar
Urut berdasarkan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top