Imbas Perang Dagang AS-China, Daimler Pangkas Prospek Laba

Daimler AG menjadi perusahaan besar pertama yang memangkas prospek labanya di tengah meningkatnya ketegangan perdagangan antara AS dan China, setelah memperkirakan pembeli asal China mengalami penurunan karena pemerintah mengenakan tarif impor otomotif dari AS.
Aprianto Cahyo Nugroho | 22 Juni 2018 11:25 WIB
Dua orang berusaha mendorong turun dari panggung mobil konsep swakemudi Vision EQ saat peluncuran perdana mobil konsep Mercedes EQA di Frankfurt Motor Show (IAA) di Frankfurt, Selasa (19/9). - .Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Daimler AG menjadi perusahaan besar pertama yang memangkas prospek labanya di tengah meningkatnya ketegangan perdagangan antara AS dan China, setelah memperkirakan pembeli asal China mengalami penurunan karena pemerintah Tiongkok mengenakan tarif impor otomotif dari AS.

Saham produsen Mercedes-Benz ini turun paling tajam sejak April setelah mengatakan pada Rabu malam, (20/6/2018), laba setahun penuh yang tidak termasuk beberapa item diperkirakan melemah tipis dari tahun lalu.

Dilansir Bloomberg, banyak mobil SUV (Sport-Utility Vehicle) yang diproduksi di Alabama, AS dan kemudian dikirim ke China. Kendaraan-kendaraan itu kini terdampak oleh tarif pembalasan yang diumumkan di China sebagai tanggapan terhadap tarif impor Presiden Donald Trump atas barang-barang China senilai US$50 miliar.

Nicholas Smith, analis di CLSA Securities mengatakan dengan meningkatnya prospek perang dagang, sejumlah industri akan terhindar dan lebih banyak perusahaan mungkin harus mengikuti langkah Daimler.

"Dengan pandangan sinis, saya pikir akan ada banyak perusahaan yang perlu mengurangi perkiraan penjualan dan ini akan menjadi alasan yang sangat nyaman untuk menyalahkan (perang dagang)," kata Smith.

"Orang-orang Eropa akan menerima hal ini, warga China akan melihat ini sebagai gejolak besar dan ini adalah sifat perang dagang yang membuat semua orang rugi."

Para pesaing Daimler belum segera mengambil tindakan, dan beberapa analis mengatakan bahwa langkah Daimler ini mungkin terlalu dini. Juru bicara Volkswagen AG mengatakan target laba 2018 perusahaan tetap tidak berubah.

Adapun BMW AG mengatakan masih memantau perkembangan dan tidak mengubah outloot laba tahun ini. Perusahaan yang bermarkas di Munich, Jerman, tahun lalu mengekspor lebih dari 100.000 kendaraan SUV ke China dari AS.

Meskipun angka tersebut diperkirakan menurun tahun ini menyusul langkah BMW untuk memproduksi SUV X3-nya di China, mereka masih akan mengekspor lini X5.

BMW dihadapkan pada potensi penurunan pendapatan operasional 100 juta euro ($ 115 juta) hingga 200 juta euro, menurut analis Bankhaus Metzler, Juergen Pieper.

Tag : perang dagang AS vs China
Editor : Linda Teti Silitonga
KOMENTAR


0 Komentar
Urut berdasarkan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top