Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kiat Mengantisipasi Agar Mobil Tidak Overheating

Berikut ini mengenai tip bagaimana merawat radiator mobil dan bagaimana penanganan di pejalanan apabila mobil mengalami overheating.
Puput Ady Sukarno
Puput Ady Sukarno - Bisnis.com 16 Desember 2014  |  00:18 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - "Waktu itu sebelum berangkat, saya lupa mengecek kondisi air di radiator mobil," kata Didik Supriyanto kepada saya ketika mengawali kisahnya yang pernah mengalami permasalahan overheating pada mobil kesayangannya, belum lama ini.

Waktu itu, pria berambut gondrong yang juga seorang karyawan di perusahaan swasta di Jakarta, bersama keluarga besarnya hendak berlibur menuju Taman Matahari di Kawasan Puncak, Bogor.

Namun, di tengah perjalanan, lalu lintas padat merayap,  kondisi mesin tiba-tiba  overheating. Dia pun  menepikan kendaraannya dan menjadikan perjalanan berwisata yang seharusnya bahagia itu  terganggu.

Mungkin, anda juga pernah mengalami hal seperti yang dialami Didik dan keluarganya tersebut. Bisa dibayangkan, betapa kesalnya kalau hal itu terjadi saat sedang buru-buru dan  kondisi jalanan  macet.

Lalu bagaimana cara agar mobil kesayangan anda tidak mengalami overheating sehingga  perjalanan anda lancar?

Andi Irwan, Kepala Bengkel KIA, Sunter, Jakarta mengatakan  mesin mobil mengalami overheat merupakan masalah yang sering ditemui di Jakarta dan kota besar lainnya, mengingat lalu lintas yang padat dan sering terjadi kemacetan yang luar biasa.

Menurutnya ada beberapa faktor penyebab mobil mengalami overheat, misalnya kebocoran radiator, kurangnya air dalam radiator, kerusakan kipas pendingin radiator, yang bisa mengakibatkan mesin kepanasan hingga mati total.

Berikut beberapa tip yang bisa dilakukan para pemilik mobil di rumah ketika memanasi mesin sebelum dipergunakan berkendara.

Petama, setiap pagi ketika memanasi mesin mobil, cek isi dari recervoir air pendingin. Isi airnya diusahakan pada kondisi full, bukan low.

"Cukup dilihat itu. Memang terkadang airnya berkurang, tetapi normalnya tidak berkurang signifikan. Paling selama sepakan akan berkurang beberapa cc saja, sekitar 100 - 200 cc. Hal itu bisa di isi sendiri airnya," ujarnya.

Namun, apabila mendapati kasus diluar normal, misalnya setiap hari harus menambah airnya, berarti ada kebocoran dan sebaiknya mobilnya tidak dipakai terlebih dahulu untuk berlibur tetapi dibawa ke bengkel resmi untuk diperbaiki.

Setelah memeriksa kondisi air dalam recervoir tersebut. Tip kedua adalah mengamati secara visual, apakah ada tetesan atau bekas tetesan air (biasanya bekasnya berwarna kuning) di bagian mesin, untuk memastikan ada tidaknya kebocoran dari radiator. Kebocoran dapat menyebabkan air cepat habis sehingga mesin cepat panas.

Bisa juga dilihat pada kolong mobil, apakah ada tetesan atau tidak akan dapat diketahui. "Tetapi ingat pada saat melakukan itu jangan menyalakan ac mobil, agar tidak salah identifikasi bahwa ternyata ada tetesan air dari ac mobil yang menyala," tuturnya.

Tip ketiga, periksa kondisi tutup radiator, apakah kondisinya masih bagus atau tidak. Kalau kendor atau pecah-pecah, segera diganti.

Selain itu, tip keempat, cek juga kondisi kipas radiator apakah berfungsi dengan baik atau tidak, caranya panaskan mesin sampai melebihi batas temperatur seharusnya, sehingga otomatis kipas akan bekerja untuk mendinginkan.

"Mekanismenya cooling fan seperti itu. Dia akan bekerja alias berputar apabila temperatur mesin melebihi ketentuan yang wajar," ujarnya.

Tip kelima, pada saat mencuci mobil bisa disemprot air bertekanan melalui grill depan untuk membersihkan kotoran yang menempel pada kisi-kisi radiaor. Karena, apabila kisi-kisi tersebut kotor, maka berdampak pada cepat panasnya radiator.

Setelah semua rutin dilakukan, baru bisa digunakan untuk berlibur bersama keluarga tercinta.

Namun, bagaimana apabila suatu pagi lupa mengecek kendaraan dan terjadi over heating di perjalanan, seperti yang dialami Didik bersama keluarganya tersebut?

Menurut Andi, sebenarnya hal itu bisa dipantau melalui kontrol panel yang ada di speedometer mobil bersangkutan yang jarumnya menunjukkan kondisi mesin apakah terlalu panas maupun terlalu dingin.

Sebaiknnya, kata Andi, jarumnya berada pada posisi ditengah-tengah agak ke bawah sedikit. Kalau sampai jarum melebihi setengah dan terus naik, bisa dipastikan mesin itu kepanasan dan sebaiknya langsung berhenti karena dapat menyebabkan overheating yang pada ujungnya merusak mesin.

"Kalau di perjalanan, dan Anda melihati kondisi jarum di panel itu naik secara cepat, sebaiknya menepi dan berhenti, lalu buka kap mesin, biarkan sekitar 15 menit sambil menunggu tenperatur air di radiator agak dingin dari semula 90-100 derajat celcius menjadi sekitar 40-60 derajat celcius," paparnya. Hal ini dimaksudkan agar ketika membuka tutup radiator tidak terkena cipratan air panas tersebut.

Setelah itu, maka yang bisa dilakukan adalah seperti langkah awal, misalnya cek air radiator dan apabila kurang bisa di isi air mineral, kipas radiatornya berfungsi atau tidak, apa ada kebocoran atau tidak, semua bisa di cek.

Menurutnya, ada beberapa poin penting di sini, yakni jika anda memutuskan menunggu mesin dingin, jangan buka tutup radiator dan matikan mesin.

Namun jika ingin membuka tutup radiator, jangan sekali-kali melakukan dengan kondisi mesin mati. Sebab akan membuat tekanan yang sangat kuat dan semburan air panas akan keluar.

"Kalau radiator tidak bocar, air masih stabil, berarti kemungkinan cooling fan bermasalah," tuturnya.

Menurutnya, kalau terpaksa cari bengkel, jangan langsung percaya pada bengkel yang menawarkan penggantian suku cadang baru dengan harga mahal. Cek terlebih dahulu yang benar. "Biasanya kebocoran terjadi pada selangnya atau dinamo kipasnya bermasalah," ujarnya.

Pada pemeriksaan di bengkel, prosedurnya adalah tangki radiator akan dipompa guna memberikan tekanan sebesar 1,5 bar, melebihi batas radiator normal sekitar 0,8 bar - 1,1 bar guna mengetahui seberapa parah kebocorannya.

Saat ini, katanya biaya kerusakan selang sekitar Rp100.000 - Rp150.000. Kalau kipas atau kebocoran radiator, bisa sekitar Rp600.000 - Rp800.000 atau bahkan hingga Rp1,5 juta, tergantung tingkat kerusakan.

"Kalau misalnya radiator benar bocor, sewa derek aja. Karena kalau sampai turun mesin, biaya perbaikannya lebih mahal. Misal harus turun mesin biayanya bisa diatas Rp2,5 juta, sedangkan biaya derek paling kalau Puncak - Jakarta sekitar Rp1 juta," ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

otomotif
Editor : Martin Sihombing
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top