Produsen Mobil Diesel Giatkan Kajian Euro 4

Produsen kendaraan diesel dalam negeri giat melakukan kajian untuk penerapan standar emisi Euro 4 yang cocok dengan campuran biodiesel yang direncanakan naik secara bertahap. Hingga sejauh ini dengan standar Euro 2, penerapan bauran biodiesel 20% (B20) diklaim berjalan mulus.
Thomas Mola | 26 November 2018 06:00 WIB
Ilustrasi bahan bakar Biodiesel B20 - Reuters/Mike Blake

Bisnis.com, JAKARTA—Produsen kendaraan diesel dalam negeri giat melakukan kajian untuk penerapan standar emisi Euro 4 yang cocok dengan campuran biodiesel yang direncanakan naik secara bertahap. Hingga sejauh ini dengan standar Euro 2, penerapan bauran biodiesel 20% (B20) diklaim berjalan mulus.

Seperti diketahui, pemerintah berencana menerapkan Euro 4 mesin diesel pada 2021. Penerapan Euro 4 pada mesin bensin telah terlebih dahulu dilakukan pada Oktober lalu.

Di sisi lain, pemerintah juga ingin meningkatkan kandungan biodiesel dari B20 menjadi B30 pada tahun depan (Bisnis.com 16/7). Pemerintah juga berencana secara bertahap menuju B100 guna mengoptimalkan produk minyak sawit di dalam negeri.

Tak ayal, pengembangan mesin yang mendukung bahan bakar biosolar menjadi salah satu keharusan bagi produsen yang ingin memasarkan kendaraan di dalam negeri. Biosolar dengan bauran minyak sawit menjadi salah satu bahan bakar yang khas Indonesia karena menjadi pionir penerapan bauran solar dan minyak sawit.

Sales & Promotion Director PT HMSI Santiko Wardoyo mengatakan, penerapan B20 yang dilakukan pada awal September sempat mengalami beberapa kendala karena periode transisi. Namun, pada Oktober sudah tidak ada masalah di lapangan.

“Pada Oktober sudah tidak ada complain lagi, mudah-mudahan lancar kalau gak bahaya juga karena [sawit] kita over production,” ujarnya kepada Bisnis baru-baru ini.

Santiko menuturkan, Hino siap untuk menghadirkan kendaraan yang memenuhi standar emisi Euro 4. Dari sisi bahan spesifikasi dan kesiapan bakar nabati yang sesuai dengan Euro 4, menurutnya merupakan ranah pemerintah.

Dia berharap, pada saat implementasi Euro 4 nanti ketersediaan bahan bakar bisa lebih merata karena kendaraan komersial memiliki mobilitas tinggi. Selain itu, populasi truk juga menyebar di berbagai daerah berkat kehadiran infrastruktur yang mulai tersambung.

“Istilahnya kami siapkan fisik, minumnya mana. Penyebaran tentu harus merata karena truk mobilitasnya tinggi dan ke depan infrastruktur mulai nyambung,” tambahnya.

Terpisah, GM Sales PT Isuzu Astra Motor Indonesia (IAMI) Yohanes Pratama mengatakan, penerapan B20 untuk kendaraan Isuzu berjalan baik. Isuzu telah mengedukasi jaringan bengkel untuk menangani masalah kendaraan yang menggunakan B20 seperti masalah filter dan tangki.

Terkait penerapan Euro 4 dan B20, dia menjelaskan, Isuzu telah melakukan kajian perihal campuran biosolar sejak 2015/2016. Temuan kala itu banyak bahan bakar biosolar dengan bauran yang tidak merata antara B10 hingga B25. Beberapa sampel bahan bakar itu dikirimkan ke Jepang untuk dikaji untuk pengambangan mesin sehingga mampu untuk menerima bahan bakar biosolar.

“Kami studi di Jepang, di lokal juga kami tes lebih dari 1.000 jam dan tidak ada masalah. Sejauh ini tidak ada masalah, dengan common rail tidak ada masalah,” paparnya.

Sebelumnya, Isuzu menjadi salah satu pabrikan yang telah menyatakan secara resmi siap menerapka Euro 4. Dengan mengusung teknologi common rail, Isuzu mengklaim cocok untuk Euro 4 dan bauran biosolar.

Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Jongkie D. Sugiarto mengatakan, industri otomotif dapat menerima penerapan B30 jika memenuhi standar Euro 4.

"Sepanjang B30-nya comply dengan Euro 4 maka industri otomotif bisa menerima," jelasnya.

Tag : Mandatori Biodiesel
Editor : Fatkhul Maskur
KOMENTAR


0 Komentar
Urut berdasarkan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top