Viar Studi Swap Baterai Sepeda Motor Listrik

PT Triangle Motorindo (Viar Indonesia) tengah melakukan studi swap baterai bagi kendaraan roda dua listrik yang akan diterapkan di Indonesia.
Yudi Supriyanto | 26 Agustus 2018 23:30 WIB
Menteri ESDM Ignasius Jonan (kiri) dan Wakil Menteri Arcandra Tahar (kanan) mengendarai motor listrik Viar Q1, di halaman gedung Heritage Kementerian ESDM Jakarta, Senin (30/10). - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com,  JAKARTA—PT Triangle Motorindo (Viar Indonesia) tengah melakukan studi swap baterai bagi kendaraan roda dua listrik yang akan diterapkan di Indonesia.

Direktur Marketing PT Triangle Motorindo Sutjipto Atmodjo, mengatakan pihaknya telah melakukan studi terkait swap baterai sejak 2—3 bulan lalu, dan belum bisa diprediksi waktu studi tersebut akan selesai. “Belum bisa kami prediksi karena karakter orang Indonesia bervariasi,” kata Sutjipto di Jakarta, Minggu (26/8/2018).

Dia menjelaskan, terdapat beberapa hal yang sedang distudi oleh perusahaan terkait dengan swap baterai yang akan diterapkan perusahaan di dalam negeri dan digunakan oleh konsumen sepeda motor listrik Viar.

Pertama, contohnya adalah mengenai sistem yang cocok digunakan di Indonesia. Saat ini, lanjutnya banyak sistem swap baterai yang berkembang di luar negeri. Akan tetapi, sistem itu tidak bisa serta-merta diadopsi di Indoensia karena karakter konsumen antarnegera memiliki perbedaan.

Sistem swap baterai yang bisa dicontoh dari sistem yang ada di luar negeri hanya garis besarnya saja, seperti tempat swap baterai. Secara lebih detail, sistem yang sudah berkembang di negara lain tidak akan bisa diterapkan.

Kedua, pihaknya juga tengah mencari untuk mengetahui seberapa detail data yang akan dimasukkan ke dalam baterai kendaraan bermotor roda dua listrik yang dimiliki oleh konsumen. Menurutnya, baterai yang digunakan pada sepeda motor listrik dan akan di-swap perlu dikontrol agar tidak acak-acakan terkait penggunaannya.

“Kalau kita mengembangkan baterai, bisa di-swap di mana-mana, berarti kita memerlukan data dari beterai itu. Kan kita tidak bisa [penggunaannya] dicak-acak, jadi berantakan dan tidak terkontrol, perlu dikontrol,” katanya.

Ketiga, terkait dengan harga yang akan dikenakan terhadap pengguna kendaraan listrik. Saat ini, dia menuturkan baterai lithium pada sepeda motor listrik yang digunakan bisa lebih mahal dua hingga tiga kali lipat dibandingkan dengan baterai yang digunakan pada sepeda listrik.

Menurutnya, semakin besar kapasitas baterai yang digunakan, maka akan semakin mahal harga yang ditawarkan ke konsumen. Saat ini terdapat banyak opsi terkait dengan swap baterai, salah satu nya adalah rental. “Masih dipelajari, banyak opsi, ada rental, ada apa,” katanya.

Saat ini, dia menjelaskan, produksi sepeda motor listrik Viar Q1 masih berada pada kisaran 100—200 unit sebulan. Perusahaan, lanjutnya masih menunggu peraturan presiden terkait percepatan pengembangan kendaraan listrik yang belum juga dikeluarkan oleh pemerintah.

Tag : Baterai Lithium-Ion
Editor : Fatkhul Maskur
KOMENTAR


0 Komentar
Urut berdasarkan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top