REPORTASE E-MOBILITY DI EROPA (SELESAI) : Kompetisi Global di Era Mobil Listrik

Pangsa pasar kendaraan listrik (electric vehicles/EV) yang diproyeksi mencapai 55% dari total penjualan mobil segala jenis di seluruh dunia saat ini porsinya hanya 2% membuat kalangan pabrikan tekun mengembangkan teknologi dan model baru.
Chamdan Purwoko | 12 Juli 2018 12:05 WIB
Memasuki era e-mobility, sejumlah produsen global tampak agresif menyiapkan berbagai model mobil dengan teknologi yang terus disempurnakan. - Mitsubishi.com

Atas undangan Mitsubishi Motors Kramayuda Sales Indonesia (MMKSI), Bisnis berkesempatan mengunjungi Eropa pada 23-28 Juni 2018 untuk melihat langsung perkembangan pasar mobil listrik berikut pembangunan infrastrukturnya.

Reportase dari kunjungan tersebut dituangkan secara komprehensif lewat serial tulisan, mulai hari ini, yang diharapkan dapat menjadi pembanding, pembelajaran atau setidaknya membuka wawasan tentang pengembangan mobil listrik. Semoga!

***

Pangsa pasar kendaraan listrik (electric vehicles/EV) yang diproyeksi mencapai 55% dari total penjualan mobil segala jenis di seluruh dunia—saat ini porsinya hanya 2% — membuat kalangan pabrikan tekun mengembangkan teknologi dan model baru.

Strategi pasar dan produk berikut teknologinya menjadi kunci terpenting untuk memenangkan kompetisi di era e-mobility. Era mobil listrik dapat dimaknai sebagai garis start baru dimulainya etape kompetisi industri otomotif global.

Mirip dengan Samsung yang sempat kalah berkompetisi di era telepon seluler konvensional, kini berhasil menjadi salah satu yang terdepan sejak dunia memasuki era baru ponsel pintar (smartphone).

Di industri mobil begitu juga. Setiap pabrikan kini punya peluang menjadi yang terdepan di masa depan, bahkan mengungguli pemimpin pasar global yang sekarang dikuasai General Motors dan Toyota. Untuk itu, penyiapan strategi menjadi penentu kemenangan saat memasuki era mobil listrik sebagai start point dari etape baru persaingan di industri otomotif.

Memasuki era e-mobility, sejumlah produsen global tampak agresif menyiapkan berbagai model mobil dengan teknologi yang terus disempurnakan. Tercatat, grup aliansi Renault, Nissan dan Mitsubishi menyiapkan 12 model EV hingga 2022. Sementara itu, BMW menyiapkan 12 model EV hingga 2025, sedangkan Daimler 10 model EV hingga 2022.

Secara spesifik Toyota berencana memproduksi 100 juta unit mobil listrik berbagai model hingga 2030, termasuk berteknologi fuel cell vehicle (FCV). General Motors (GM) memiliki strategi serupa dengan Toyota, namun dengan timeline lebih cepat yakni hingga 2026.

Warih Andang Tjahjono, Presiden Direktur PT Toyota Astra Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), pernah mengungkapkan bahwa pada 2030 setiap model yang dibuat Toyota punya lineup mobil listrik untuk memenuhi permintaan global.

Volkwagon (VW) terlihat lebih ambisius ketimbang GM dan Toyota, dengan memproduksi 300 juta unit berbagai model kendaraan listrik hingga 2025. Sementara itu, Tesla sebagai salah satu pemimpin pasar mobil listrik saat ini, siap berkompetisi dengan memperluas lineup model sport utility vehicle (SUV), pikap dan truk.

Mitsubishi Outlander PHEV

Seperti halnya Samsung yang berhasil ‘menyalip di tikungan’ saat memasuki era ponsel pintar, Mitsubishi Motor Corporation (MMC) yang kini beraliansi dengan Grup Renault-Nissan, terlihat jelas ambisinya untuk menjadi salah satu pemain paling disegani di panggung e-mobility global.

Dengan mengandalkan model SUV Outlander PHEV (plug-in hybrid vehicle), Mitsubishi sangat agresif berjualan ke penjuru dunia, terutama Eropa. Model ini merupakan salah satu mobil listrik paling laku di Benua Biru.

“Saat ini, penjualan Mitsubishi Outlander PHEV di Eropa berada di ranking teratas,” ujar Toshinaga Kato, General Manager Indonesia Business Departement Asean Division, MMC di sela-sela test drive Outlander PHEV di Marseille, Prancis baru-baru ini.

Untuk memperkuat penetrasi Outlander PHEV di seluruh Eropa, Mitsubishi bekerja sama dengan NewMotion, sebuah perusahaan penyedia infrastruktur charger baterei mobil listrik yang berpusat di Belanda.

Sander Ouwerkerk, Business Development Director NewMotion menjelaskan infrastruktur pengisian baterei merupakan aspek terpenting dan tidak bisa dipisahkan dengan pengembangan mobil listrik. “Anda tidak mungkin mengembangkan mobil listrik tanpa infrastrukrur charge point yang memadai,” katanya saat Bisnis dan sejumlah jurnalis dari Jakarta mengunjungi kantor NewMotion di Amsterdam.

Outlander PHEV yang pertama kali dipamerkan di Geneva Motor Show pada Maret 2013, mampu membukukan angka penjualan lebih dari 153.000 unit di 55 negara hingga Maret 2018, atau 5 tahun sejak memulai debutnya.

Dari total volume tersebut, penjualan di Jepang merupakan yang terbanyak dengan populasi sekitar 42.618 unit. “Di luar Jepang, Eropa merupakan pasar yang paling prospektif dengan pertumbuhan paling cepat,” kata Kato.

Berdasarkan data MMC, Inggris tercatat sebagai negara dengan penjualan Outlander PHEV terbanyak dengan rapor sekitar 36.803 unit. ()

Uniknya, Outlander PHEV yang memiliki kapasitas beterai 12 kWh juga bisa memasok listrik ke rumah. Jadi, saat listrik mati, peralatan elektronik di rumah tetap bisa dioperasikan hingga lima hari, tergantung konsumsi listrik.

Selain Outlander PHEV yang masuk kategori mobil hybrid, Mitsubishi juga punya i-MiEV yang sepenuhnya merupakan kendaraan listrik, tanpa ada tangki BBM. Mobil ini memiliki kapasitas baterai 16 kWh.

Model i-MiEV adalah kendaraan listrik pertama keluaran Mitsubishi yang diproduksi massal, sejak pabrikan Jepang itu mulai mengembangkan baterei lead-acid untuk mobil pada 1971.

Mitsubishi I-MiEV juga tercatat sebagai mobil listrik pertama di dunia yang dipasarkan secara global. Memulai debutnya di pasaran Jepang pada 2009, kini i-MiEV telah merangsek ke 53 negara, dengan total angka penjualan hingga sekarang sekitar 31.000 unit.

Sumber : Bisnis Indonesia, Edisi Kamis (12/7/2018)

Tag : Mobil Listrik, Mitsubishi Outlander PHEV, ChargePoint
Editor : Fatkhul Maskur
KOMENTAR


0 Komentar
Urut berdasarkan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top