PROYEKSI SEMESTER II 2018 : Sejumlah Tantangan Mengadang di Pasar Mobil

Pengiriman pabrikan ke diler (wholesales) mobil sepanjang semester pertama menunjukkan pertumbuhan cukup menyakinkan untuk pencapaian target sepanjang tahun. Namun, beragam tantangan diperkirakan masih akan mengadang pada periode paruh kedua.
Thomas Mola & Yudi Supriyanto | 10 Juli 2018 17:05 WIB
Diler Auto2000. - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA – Pengiriman pabrikan ke diler (wholesales) mobil sepanjang semester pertama menunjukkan pertumbuhan cukup meyakinkan untuk pencapaian target sepanjang tahun. Namun, beragam tantangan diperkirakan masih akan mengadang pada periode paruh kedua.

Berdasarkan data Gabungan Industrik Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil pada semester pertama tercatat lebih banyak 21.340 unit (+4%) dibandingkan dengan capaian periode yang sama tahun lalu 533.506 unit menjadi 554.846 unit.

Pencapaian tersebut 50,44% dari target sepanjang tahun 1,1 juta unit. Padahal, biasanya pencapaian pada semester pertama hanya di kisaran 48%. Dengan demikian, pemenuhan target pada semester kedua semestinya akan lebih ringan.

“Umumnya penjualan pada semester kedua itu 52% [dari target], tetapi banyak kondisi yang harus diperhatikan pada semester kedua, seperti nilai tukar mata uang asing, perang dagang China-AS, suku bunga, dan sebagainya, ” kata Executive General Manager TAM Fransiscus Soerjopranoto kepada Bisnis, Jumat (6/7).

Kondisi tersebut, katanya, dapat berdampak pada pertumbuhan penjualan pada paruh kedua tahun ini.

Dia menjelaskan, pasar otomotif dibagi menjadi dua bagian. Pertama, pasar kendaraan roda empat kelas Avanza ke bawah. Kedua, pasar kendaraan mobil di atas Avanza atau segmen menengah atas.

Pasar bawah membutuhkan dukungan kredit dalam pembelian mobil. Oleh karena itu, pasar akan tertekan peningkatan suku bunga acuan yang mengerek bunga pinjaman. Sebaliknya, pasar segmen atas diperkirakan masih tetap baik mengingat tidak ada masalah keuangan bagi konsumen.

Menurutnya, segmen pasar atas akan melakukan pembelian ketika terdapat produk atau edisi baru yang sesuai. “Kelas di atas [Avanza] punya uang, tetapi cari produk yang sesuai, khususnya baru, new edition.”

Perusahaan akan tetap mengedapankan layanan terbaik kepada pelanggannya melalui 320 outlet yang tersebar di seluruh Indonesia sebagai strategi penjualan ritel yang akan diterapkan pada semester kedua tahun ini.

Direktur Institute for Development of Economic and Finance (Indef) Enny Sri Hartati mengungkapkan, kendaraan bermotor baik roda empat maupun roda dua bukan kebutuhan pokok sehingga sangat tergantung pada harga.

Menurutnya, terdapat tiga faktor yang memengaruhi harga kendaraan, yakni nilai tukar rupiah, suku bunga, dan harga bahan bakar minyak.

Pelemahan nilai tukar rupiah akan mendongkrak harga dan pada gilirannya menekan permintaan. Hal ini karena masih terdapat suku cadang atau komponen diimpor. Adapun kenaikan suku bunga akan membuat permintaan turun lantaran sebagian besar masyarakat membeli dengan kredit.

Sementara itu, kenaikan harga bahan bakar akan menekan permintaan karena kendaraan dan bahan bakar minyak itu adalah komplementer. “Sekalipun premium tidak naik tapi keberadaannya jarang di pasar, dan akan mengurangi permintaan.”

Dia menilai, langkah pemerintah yang memberikan insentif loan to value belum mampu mengompensasi dampak kenaikan suku bunga, pelemahan nilai tukar rupiah, dan bahan bakar minyak.

Sepanjang paruh pertama tahun ini Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan 7 days reserve repo rate (BI-7) hingga 100 poin menjadi 5,25%. Peningkatan suku bunga acuan terjadi pada Mei hingga Juni 2018 sehingga dikhawatirkan akan mengerek bunga kredit.

Sekretaris Umum Gaikindo Kukuh Kumara mengatakan, kenaikan suku bunga BI-7 akan berdampak pada penjualan kendaraan. Setidaknya akan menetralisir dampak positif pameran mobil pada Agustus mendatang.

“Pameran mobil harusnya mendongkrak, tentu kalau suku bunga tidak naik akan lebih positif. Kemungkinan ini [kenaikan suku bunga] akan menetralisir sentimen positif,” ujarnya.

Kukuh menambahkan fluktuasi rupiah juga menjadi sentimen yang juga perlu diwaspadai. Kebijakan Amerika Serikat yang mulai memperhatikan necara dagang dengan negara lain dikhawatirkan juga akan berdampak pada kinerja ekspor-impor otomotif.

“Kalau kemudian ada kebijakan yang membantu, memberikan sinyal positif, dampak dari perlemahan rupiah bisa tidak berkepanjangan,” tambahnya.

Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Jongkie Sugiarto berharap pertumbuhan ekonomi, nilai tukar rupiah, hingga bunga perbankan tetap terjaga sehingga tren pertumbuhan pasar otomotif sejak paruh kedua tahun lalu masih akan berlanjut.

“Target penjualan pada tahun ini masih sesuai rencana awal yakni 1,1 juta unit. Pertumbuhan penjualan kendaraan niaga diharapkan menjadi salah satu pendorong seperti yang terjadi pada 5 bulan pertama tahun ini,” ujarnya.

Sumber : Bisnis Indonesia, Selasa (10/7/2018)

Tag : Penjualan Mobil, Pasar Mobil
Editor : Fatkhul Maskur
KOMENTAR


0 Komentar
Urut berdasarkan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top