Kamis, 23 Oktober 2014 RSS Feed Bisnis TV Photos ePaper Indonesia Business Daily

KENAIKAN BBM: Harga Premium Naik Belum Tentu Picu Pembelian Mobil Solar

Emanuel Tome Hayon   -   Senin, 20 Mei 2013, 08:45 WIB

BERITA TERKAIT

BISNIS.COM, JAKARTA--Rencana Pemerintah menaikan premium tidak serta merta memicu penurunan penjualan mobil dengan bahan bakar premium dan meningkatkan penjualan mobil berbahan bakar solar.

Pasalnya saat ini nilai oktan yang terkandung pada solar di Indonesia masih rendah untuk pemakaian mobil.

Ketua I Gaikindo, Jongkie Sugiarto mengatakan bisa terjadi tren penjualan mobil bensin turun dan mobil diesel naik. Hanya saja, Jongkie belum bisa berspekulasi karena keputusan tersebut sampai saat ini diumumkan oleh Pemerintah.

Dia menuturkan, tren tersebut tidak sepenuhnya berjalan karena di Indonesia nilai oktan yang terkandung dalam solar tidak terlalu bagus sehingga memungkinkan konsumen cepat berpindah.

Lebih lanjut,sambungnya, solar di Indonesia masih pada tingkatan Euro 2 dan yang terjual adalah pertadax dengan kualitas masih banyak.

"Memang tren dunia sekarang bergeser ke diesel hanya untuk Indonesia belum siap karena kualitas solar kita masih dibawah pada standar euro 2," ujar Jongkie kepada Bisnis, Minggu (19/5/2013).

Presiden Direktur PT General Motors Indonesia Marcos A. Purty menerangkan kenaikan BBM bisa memicu penjualan mobil bensin turun dan mobil diesel naik. Menurutnya, meskipun terpicu tetapi hal tersebut tidak berdampak signifikan kepada penjualan.

"Secara ekonomi kebijakan tersebut bisa menjadi pertimbangan bagi konsumen dalam pembelian produk," jelasnya kepada Bisnis, Minggu (19/5/2013).

Dia menuturkan meskipun BBM bisa memberi dampak pada penjualan, namun hal tersebebut bergantung pada selera konsumen yang membeli.

Saat ini,lanjutnya, konsumen juga bisa melihat pada nilai yang di keluarkan oleh kendaraan tersebut.

Nilai yang dimaksudkan,sambungnya, adalah ketersediaan fitur dan tekhnologi yang bisa memberi dampak pada efisiensi penggunaan kendaraan.

Lebih lanjut, dia menerangkan, penurunan produksi mobil tidak bisa ditaksir turun karena konsumen pemakai saat ini lebih memilih keistimewaan yang diberikan oleh konsumen mobil.

Selain itu, sambungnya, penurunan penjualan juga bisa berdampak pada downpayment (DP) atau uang muka.

"DP juga sangat berpengaruh pada penjualan tidak hanya pada kenaikan BBM. Jadi Pemerintah harus memperhitungkan," ujarnya.(c33/yop)


Editor : Yoseph Pencawan

Ikuti berita Bisnis.com melalui smartphone Android dengan aplikasi Android Apps Bisnis.com. Download di Google Play!
 
Beli Buku, Data, ePaper, Indonesia Business Daily bisa dengan kartu kredit. Klik di sini!
Reader's Choice: Pilih Topik menarik untuk Diulas oleh Harian Bisnis Indonesia. Klik di sini!

Layak Disimak

Comments :

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.